SEMANGAT BELAJAR DI TENGAH KETERBATASAN
Salah satu aspek yang
seharusnya mendapat perhatian utama oleh setiap pengelola pendidikan adalah mengenai fasilitas pendidikan. Sarana pendidikan pada umunya
mencangkup semua fasilitas yang secara langsung
dipergunakan dan untuk menunjang proses dalam belajar, seperti gedung, ruang belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan dan sebagainya. Sudah bukan rahasia umum dalam proses pendidikan, bahwa kualitas pendidikan tersebut juga didukung dengan sarana dan prasarana yang menjadi
standar sekolah atau isntansi pendidikan yang
terkait. Secara tidak langsung sarana
dan prasarana juga sangat mempengaruhi kualitas belajar bagi siswa didik.
Dari hasil observasi dan
wawancara yang kami lakukan, kondisi yang berbeda justru terjadi di beberapa
sekolah yang ada di desa Pangongsean. Diantaranya adalah sekolah TK Tunas
Bangsa. sekolah ini berdiri sejak tahun 2001 yang di rintis oleh bapak Ali Nizar dengan memakai dana
swadaya keluarga. Sekolah ini hanya memiliki dua ruangan kelas dan satu ruangan
yang berada di emperan rumah warga. Minimnya
tempat sampah yakni hanya 1 buah yang dimiliki sekolah tersebut, taman bermain,
dan minimnya bangku belajar yang menjadikan suasana belajar kurang nyaman,
dengan salah satu ruang yang terbuka, jika matahari terik maka akan cukup
mengganggu proses belajar mengajar karena tidak adanya penghalang sinar
matahari yang masuk dalam ruangan belajar mereka. Beberapa usaha sudah
diupayakan oleh pengurus ataupun para tenaga didik diantara yaitu dengan mengajukan
permintaan penambahan gedung oleh pemangku kebijakan, namun upaya tersebut
belum bisa direalisasikan oleh pemeintah setempat dengan alasan menunggu
giliran dan diminta untuk bersabar.
“hanya ada tiga ruangan kelas di sekolah TK
ini, itupun yang satu ada di emperan warga karena dua ruangan kelas tidak mampu
menampung jumlah siswa didik yang cukup banyak. Sempat beberapa kali saya dan
pengurus lain mengajukan permohonan kepada kepala desa Pangongsean untuk
penambahan gedung, namun alasanya harus menunggu giliran dan bersabar.”. (tutur salah satu guru saat kami jumpai di sekolah).
(Proses belajar
di teras rumah warga)
Kondisi yang sama juga
terjadi di SDN 2 Pangongseaan, minimnya fasilitas infrastrukur pendidikan juga
masih mewarnai dalam proses belajar mengajar. Salah satu hal yang menjadi
sorotan adalah adanya beberapa gedung sekolah yang roboh dan hampir rata dengan
tanah, genteng, tembok dan bangunan penyokong lain sudah hampir tidak ada. Dampaknya
adalah para siswa harus bergantian dan berdesak-desakan dengan siswa yang lain.
Setalah di konfirmasi lebih lanjut bangunan tersebut roboh karena usianya sudah
cukup tua sehingga mengaharuskan renovasi, bukan tidak mungkin bangunan yang
masih berdiri juga akan mengalami kondisi yang sama jika tidak segera di
perbaiki. Mengingat juga terdapat
retakan sana-sini.
(Sebagian sisi bangunan kelas)
Kekurangan infrastruktur
juga di alami oleh “Yayasan Nurul Iman”. Yayasan ini terdiri dari MI dan SMPI. Banyak
fasilitas yang tidak ada pada sekolah tersebut seperti tidak adanya tempat
sampah, ruang perpustakaan, sampai dengan kurangnya meja belajar bagi murid-murid. Tentu ini sangat mengganggu
proses belajar dan mengajar. Para murid juga terkesan dibiarkan begitu saja . contoh kecil, banyak murid yang tidak memakai sepatu,
keluyuran saat proses belajar berlangsung, tidak memakai seragam dan masih
banyak lagi. Tidak jarang sering terjadi jam kosong saat pelajaran karena
banyak dari tenaga pendidik tidak masuk bahkan sering meninggalkan sekolah
saat pelajaran berlangsung. Salah satu faktor penyebabnya adalah, semua tenaga
didik yang mengajar di “Yayasan Nurul Iman” adalah pegawai honorer. Yang mengharuskan
mereka mencari penghasilan lain diluar penghasilan sebagai guru.
“kalau mengajar disini
tidak usah kaget mas, ya seperti ini kondisinya. Banyak kelas yang kosong
karena banyak guru yang tidak datang. Maklum, semua guru disini pegawai honorer
jadi mereka sering tidak masuk, bahkan sering meninggalkan kelas untuk mencari
tambahan penghasilan lain selain sebagai guru karena untuk mencukupi kebutuhan”. (Tutur salah satu guru”)
kegiatan mengajar kelompok kkn 54
melihat kondisi tersebut, kelompok KKN 54 universitas Trunojoyo Madura,
berusaha membantu dengan seadanya, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah
dengan membantu mengajar di berbagai kelas yang kosong. Meskipun dengan segala
keterbatasan infrastruktur, terlihat semangat yang membara dari jiwa-jiwa kecil
yang haus akan pengetahuan yang baru. Tentu hal tersebut harus menjadi prioritas
bagi program kerja yang harus segera di laksanakan. Semoga dengan adanya data
ini dapat menjadi bahan evalusai bagi pemerintah setempat. Karena, tidak dapat
di pungkiri bahwa fasilitas
infrastruktur sangat dibutuhkan sebagai penunjang sarana belajar dan mengajar
bagi guru maupun siswa didik.


0 Komentar