SENTRA PECI DUSUN GURBAK
Sudah
bukan rahasia umum bahwa peci atau songkok menjadi salah satu warna bagi
kebudayaan bangsa Indonesia. Keberadaanya tersebar dari sabang sampai merauke,
dari pelosok desa sampai hingar bingar sebuah kota. Jangkauan pasarnya mulai
dari tingkat lokal sampai tingkat global yang menjadikan peci ini sebagai salah
satu produksi unggulan bagi beberapa pengusaha di Indonesia. Sekilas peci atau
songkok merupakan barang yang sangat sederhana. Tapi dibalik kesederhaan itu terkandung sebuah keistimewaan yang luar
biasa. Keistimewaan pertama, selain
dapat dugunakan pada hari-hari besar islam, peci juga dapat digunakan untuk
melakukan ibadah shalat, dalam acara pesta-pesta resmi seperti pernikahan,
khitanan dan pada acara keagamaan lainnya. Keistimewaan kedua, meskipun peci
identik dengan simbol seorang muslim, namun peci juga dapat digunakan bagi orang
Non Muslim. Karena pada dasarnya peci merupakan warisan kebudayaan bangsa
Indonesia yang dalam peggunaanya tidak
membedakan antara ras, suku, maupun agama.
Di mata dunia, peci atau songkok
merupakan pakaian khas Asia Tenggara ksusunya Brunei Darusalam, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia sendiri banyak produsen peci atau
songkok dengan beragam merk, motif dan kualitas. Produsen peci dan songkok ini mayoritas masih
dalam bentuk UKM ( Usaha Kecil dan Menengah) dengan jumlah modal dan produksi
yang masih terbatas, Selain itu pekerjanya juga dari
lingkungan masyarakat sekitarnya. namun meskipun demikian, keberadanya sebagai salah satu penggerak perekonomian Nasional. Seperti
yang di lansir kompasiana pada tanggal 24 Agustus 2017, Terbukti Koperasi dan UKM menjadi salah satu
penyumbang bagi devisa negara yang jumlahnya mencapai Rp 88, 45 miliar. Hal ini
membuktikan bahwa pentingnya adanya UKM bagi masing-masing daerah.
Dari berbagai UKM peci atau songkok di Indonesia, salah satunya ada di Dusun Gurbak. Sebuah Dusun kecil dan merupakan
salah satu dusun yang ada di Desa Pangongsean, kecamatan Torjun, Kabupaten
Sampang Madura. Menjadi dusun yang paling kurang fasilitasnya tidak menjadikan warga nya ketergantungan dari
bantuan pemerintah. Hal itu di buktikan
salah seorang warga yang mempunyai jiwa entrepreneur yang tinggi. Bapak
Heri, Merupakan warga yang menekuni
bisnis peci sejak tahun 2004.
Di temui peserta KKN 54 di
rumahnya, bapak heri begitu beliau disapa berujar jika sejak awal pihaknya
memang kesulitan menerapkan bisnis peci di daerah tempat tinggalnya. Hal
tersebut dikarenakan dusun yang di tempati usaha sangat jauh dari keramaian ”awal-awal
membuka usaha ini memang sangat sulit, karena faktor lokasi yang jauh dari
pusat kota”. Begitu tuturnya. Butuh
waktu berbulan-bulan untuk mengenalkan produk peci buatanya kepada masyarakat
luas. Sebagai pemula bisnis tersebut, bapak Heri sadar harus berjuang keras
dalam memperkenalkan dan memasarkan produk peci buatanya. Tidak-tanggung-tanggung
waktu itu bapak Heri langsung menyasar wilayah Surabaya yang dikenal sebagai
kota metropolitan terbesar kedua setelah Ibu Kota Jakarta. Pak Heri memilih
”Makam Sunan Ampel Surabaya” sebagai jalan merintis karirnya sebagai pengusaha.
Usaha pak Heri tidak lah sia-sia, Man Jadda Wa Jada begitulah pepatah
islam berkata. Dari penjualan di lingkungan makam Sunan Ampel itulah Produk
peci buatan nya di kenal dan disukai banyak orang dan kemudian mulai di
sebarluaskan ke seluruh wilayah Surabaya. Dan sampai detik ini produk peci buatan pak
Heri mendominasi empat kabupaten yang ada di Pulau Madura, yaitu, Bangkalan,
Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Di bantu dengan 3 tenaga produksinya, saat ini
dalam sebulan bapak Heri rata-rata bisa memproduksi hingga 20 kodi. Peci-peci
tersebut kemudian dipasarkan dengan harga yang bervariasi, yakni Rp 30.000,00
s. d. Rp 50.000,00/ pcs. Dengan harga yang cukup tejangkau tentu menjadi salah
satu alternatif bagi anda yang ingin membeli sebuah peci
yang berkualitas.
Untuk mengantisipasi kejenuhan
pasar terhadap produk peci kreasinya, Pak Heri mulai menambahkan sentuhan warna
kepada peci buatnya. pada awalnya hanya memproduksi peci hitam. Namun, beberapa tahun terakhir mulai membuat peci
dengan warna yang mencolok seperti putih, dan ada banyak warna lainya, di
tambah sentuhan motif yang menarik sehingga memperlihatkan kesan estetik bagi
siapapun yang memakainya. “ untuk megatasi kebosanan konsumen, saya berusaha
menampilkan peci dengan warna yang mencolok dan khas di padukan dengan berbagai
motif” begitu imbuhnya. Untuk produk-produk tersebut saat ini hanya di pasarkan
diwilayah Suarabaya dan Madura, karena keterbatasan dalam kapasitas produksi.
Jika penasaran dengan produk peci dari pak Heri, bisa langsung datang ke lokasi
produksinya yaitu di Dusun Gurbak Desa Pangongsean,
Sampang Madura. Atau jika anda sedang melakukan perjalanan ke
Surabaya, anda bisa mendatangi Kawasan ziarah makam “Sunan Ampel Surabaya”
karena di lokasi tersebut peci produksi pak Heri sudah sangat di kenal karena
ciri khasnya.
Foto bersama peserta KKN 54 dan pemilik produk peci
Salah satu motif peci


0 Komentar